Seorang pria baru saja mengkonfirmasikan reservasi yang telah ia lakukan. Serang waitresstampak kurang yakin dengan yang ia antarkan. Bayangkan saja, seorang pria yang hanya mengenakan kaus oblong, berjaket jeans, bercelana flanel dan berjenggot tipis mau santap malam disini, sendirian lagi. Apakah ia punya uang untuk membayarnya? Tapi reservasi disini begitu mahal disini dan sulit, pastilah orang ini beruntung (atau memang mampu). Dengar-dengar, orang kaya jaman sekarang itu rata-rata tidak memakai pakaian yang simbolis dengan statusnya.
Pria itu namanya Herman. Ia berumur 25 tahun. Ia tinggal di kos-kosan murah dan ia terakhir kali mencukur jenggotnya 1 bulan yang lalu. Ia memang tidak disitu untuk makan. Ia hanya ingin minum. Ia hanya ingin minum air putih.
“Silakan, pak. Menunya,”
Herrman diberikan daftar menu dengan deretan makanan dan minuman yang eksklusif dan mahal. Tapi pria itu sendiri tidak dapat mengelak takdir yang sudah diberikan. Ia memuttuskan untuk membaca sebentar, samnpai takdir yang sudah diberikan memberikan kesempatan baginya untuk menghentikan pelayan lain dan meminta pesanan.
2 menit kemudian ia memanggil pelayan itu.
“Segelas air putih,”
Ada lagi?
Tentu saja tidak. Itu bukan takdir yang diberikan. Ia hanya memesan segelas air putih. Dan pelayan itu tentu saja bersungut dalam hati sambil melihat Herman. Mendongkol sambil membawa menu makanan. Ia tidak terlalu suka hidup sebagai waitress namun ia lebih tidak suka lagi ada pria yang memutuskan sendiri kelasnya.
Seorang pria kucel, kenapa harus mau minum di restoran kelas atas? Cuma minum air putih pula! Apalagi ia mengenakan busana yang tidak pantas. Benar-benar menyebalkan. Tapi karena tamu adala raja. Segembel apapun penampilannya, ia tetaplah raja.
Dan disaat orang memesan anggur mahal ataupun jus-jus dengan saringan berkualitas, ia tetap akan memesan air putih, karena itulah takdirnya.
Dan kurang dari 5 menit , air putih itupun datang. Herman meneguknya, seperti orang lain entah kenapa disaat yang sama meminum anggur putihnya, anggur merahnya, jusnya, sari apelnya, tehnya, kopinya, es cendolnya, birnya, dan es lemon teanya. Semuanya meminum dengan hikmat. Baru selesai menyelesaikan minumannya. Tetapi, ada yang berbeda. Tidak ada senyum lega malam itu.
Satu persatu orang bergetar. Mulut-mulut mereka bergetar dan busa dikeluarkan dari mulut-mulut itu. Makanan yang telah usai tidak diselerakan untuk ditambah, makanan yang belum usai tidak lagi diselerakan untuk disantap. Tak ada lagi bersantap malam itu di restoran malam itu.
Gelimpang tunggal, gelimpang dwi, gelimpang tri, gelimpang catur, dan gelimpang-gelimpang lain. Semuanya yang meminum, kecuali Herman. Herman tetap duduk di meja makannya sambil meminum teguk demi teguk air putih sampai air putih itu usai tersedot ke dalam mulutnya.
Dan herman pergi dari restoran kelas atas yang diiringi simfoni teriakan. Teriakan karena orang-orang bergelimpangan.
Berita Koran esok hari menegaskan, adanya gula yang digunakan ternyata tercampur zat kimia berbahaya yang mana gula itu digunakan untuk mengaduk semua minuman. Ya, semua minuman. Kecuali air putih.
Herman tidak punya ekspresi apapun. Ia hanya menjalankan takdir, dan Herman tidak punya ketakutan. Ia hanya tidak pernah memulai untuk melanggar takdir, dan takdir itu tidak pernah mencelakakannya. Semua tertulis dalam kitabnya. Semua tertulis dalam kodratnya. Dan juga kodratnyalah untuk menukarkan gula dengan zat kimia itu. Dan jugalah…. Dan jugalah…
Go Home for Another Fantasy
19 Juli 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar