Selasa, 21 Juni 2011

SANG WANITA

Ia adalah seorang wanita, dulunya. Ia tidak pernah mengingat bagaimana ia dulu pernah mencecap kehidupan nyata laiknya manusia. Ia hanyalah seorang wanita. Wanita. Itu hanyalah yang ia ingat. Ia hanya mengingat bahwa ia wanita. Kemudian, sesuatu mulai terjadi kepadanya. Entah apa yang terjadi. Mungkinkah ia meninggal? Mungkin saja, mengingat ia kini sudah menjadi hantu.Sang wanita duduk terdiam disebuah pohon besar ditengah hutan. Dalam benaknya, kenapa ia bisa berada disini? Hanya nalar yang membuatnya bertahan hidup. Benar, hanyalah nalar.

Suatu pagi. Di masa lalu. Saat itu hujan deras. Embun tidak berkutik kepada air hujan yang menusuk semua hal yang berada dipermukaan bumi, begitupun sang wanita.Sang Wanita duduk, bertengger di dahan besar pohonnya. Sang Wanita hanya melamun, ia tidak memperhatikan apapun. Ada yang aneh darinya, Sang Wanita memang tidak mempunyai sama sekali hal untuk berada disini, bahkan berhak. Tapi yang jelas ia tahu, tidak ada yang mengganggunya. Hal itu membuatnya senang. Ia layaknya binatang buas yang lebih memilih menjauh, bukan menerkam. Ya, ia tidak tahu apakah ia bisa menerkam. Tetapi di satu sudut di sanubarinya, Ia selalu berharap bahwa sanubarinya masih memunculkan hal yang sama, yakni rasa menjaga. Itulah hal yang selalu ada di benaknya dan tidak pernah dilupakan. Ia tidak tahu bagaimana sanubari rasa menjaga berada dalam dirinya.

Kata orang. Orang dahulu. Ia dulunya adalah seorang wanita. Wanita yang sangat mengagungkan rambut sebagai mahkotanya yang terindah. Wanita ini sangat mencintai rambutnya. Setiap hari, setelah bekerja keras menghidupi dirinya maka ia akan mencuci dan merawat rambutnya dengan sempurna. Ia juga orang yang berbudi santun dan suka menolong dan baik terhadap siapa saja. Tidak ada satupun orang yang mempunyai prasangka buruk terhadap dirinya. Sampai saat itu datang. Saat itu malam hari. Wanita berjalan menyusuri sungai dan hutan untuk mencari rumahnya. Ia tersesat setelah terperosok kedalam jurang kecil. Ia takut pada kegelapan. Dan Ia berusaha memadamkannya. Saat ia berhasil menyusuri hutan dan sampai ke rumah. Wanita benar-benar merasa bakal tertimpa suatu yang buruk. Dan saat ia berniat menutup daun pintu rumahnya, ada seseorang yang datang, dan memukul dirinya. Wanita ini tidak mengetahui apa yang terjadi kepadanya kemudian. Kata Orang, ia diperkosa oleh pria itu dan sang pria meninggalkannya dikasur. Kemudian, sang wanita terbangun dan menemukan dirinya ternoda. Ternoda aib, ternoda mani, ternoda darah. Ia menangis sesenggukan, merutuk sekeras dan sedalam-dalamnya kepada pria yang telah menodainya.

Sebulan kemudian, ia hamil, sang Wanita menutup diri. Ia membeli perbekalan selama sembilan bulan dan menanam tanaman-tanaman obat di belakang rumahnya. Wanita ini sengsara, tapi ia yakin anak yang berada dalam kandungannya pasti menjadi harapan. Namun, terjadi lagi hal yang memilukan. Banyak versi yang terjadi untuk akhir sang wanita kenapa ia meninggal. Ada dua yang terkuat dalam penjelasan lisan dan tulis. Pertama:

Sang Wanita dianggap Sundal dan Pezina oleh Kampungnya saat Ia hamil. Saat rembulan kelima datang di saat Kehamilannya. Sang Wanita ditarik keluar oleh Warga dan Ia Dibunuh. Puluhan Tombak dan Ribuan Cacian Ia Hadapi. Sang Wanita meninggal bersama Sang Bayi.

Versi itulah yang menjadi versi yang populer. Tetapi ada lagi yang mengatakannya lagi:

Sang Wanita dalam Kehamilannya, Bulan Ketujuh. Ia kedatangan tamu. Tamu itu Ayah dari Anaknya. Sang Wanita melawan saat Sang Bejat mencoba menggugurkan paksa Wanita. Akhirnya, Sang Bayipun gugur keluar, tetapi ia tidak sepenuhnya gugur. Sang Bayi selamat dengan keadaan yang baik. Kemudian Wanita melemparkan anaknya keluar. Sang Anak lalu dipungut oleh Seseorang. Lalu, Sang Wanita dan Sang Pria berduel hingga Fajar. Saat ditemukan Warga, mereka tidak melihat satupun Tubuh yang Utuh.

Sang Wanita Mendendam? Tidak! Mungkin ya, tapi juga tidak! Sang Wanita sangat mencintai kehadiran bayi. Ia selalu menyayangi bayi dan menjaganya. Dahulu, semua Ibu yang baru Melahirkan selalu merasa aman tentang kehadiran dirinya. Maka dari itu, kehadiran Sang Wanita dipercaya sebagai pelindung.

ZAMAN BERUBAH

Tiada lagi yang mempercayainya. Ia hanya mitos. Dan itulah yang paling memilukan untuknya. Sang Wanita tidak mencoba untuk meluruskannya. Selama dua generasi saja, kepercayaan yang ia dapatkan dari Manusia sudah berbeda jauh. Sang Wanita tidak diharapi, ia diperangi. Sang Wanita menangis sendu dipohonnya. Cakrawala menghiburnya dengan pergantian Kegelapan dan Cahaya. Namun, Sang Wanita tidak lagi bisa berkutik kepada hal tersebut. Sang Wanita sudah pilu. Dan apakah yang bisa dibuat dari kepiluan setan? Sang Wanita menjadi merasa aneh. Ya, pada saat ia nekad menolong persalinan seorang Bunda, orang itu malah berteriak dan menyuruh Sang Wanita untuk pergi. Ia menganggap Sang Wanita akan mencelakakan dirinya. Kendati tidak begitu. Banyak roh jahat yang ada disekitar dirinya dengan kemampuan untuk menyakiti manusia. Namun Sang Wanita tidak bisa diam begitu saja. Ketika Sang Wanita pergi, ia langsung diburu oleh Warga. Warga tidalk tahu sebenarny siapa dia, namun apabila sebuah sosok yang asing, lebih mudah dikatakan sebagai ancaman. Maka ancaman mendatangi Sang Wanita. Sang Wanita pergi dan terduduk, menangis di pohonnya. Rintihannya itu, dianggap tawa oleh manusia. Keesokan harinya, Sang Ibu harus menerima kenyataan bahwa anaknya habis digerogoti sesuatu. Sang Wanitapun dituduh sebagai pelakunya. Namun Sang Wanita tahu kalau yanjg melakukannya adalah roh jahat lain.

ZAMAN BERUBAH

Kadang kala, sudah tidak ada lagi hal yang bisa ia pertahanakan sebagai sesosok hantu. Yang ingin ia lakukan adalah hanya kembali ke tempat asal. Namun apa yang harus ia lakukan disana sementara bahkan ia tidak bisa kesana. Seharusnya ia bisa. Sang Wanita sering melihat dilangit dan menemukan orang-orang yang meninggal terbang dan melayang ke langit. Namun diantara mereka ada yang pergi ke lautan merah dan ada yang menembus Samudera Perak. Sang Wanita hanya bisa mereunung sementara kehadirannya tidak lagi dianggap sebagai.....ancaman, bahkan ia tidak dianggap sebagai apapun. Ia hanya sebuah mitos yang mendarah daging di masyarakat. Bahkan hingga semua pohon, kecuali pohonnya ditebang dan dijaidikan perumahan.

"Ah sayang, aku takut nih nonton filmnya," Kata seorang wanita berpakaian modis yang menggandeng kekasihnya saat mereka masuk ke sebuah teater di bioskop. Sang pria, sudah berpengalaman menenangkan hati wanita yang mudah takut kepada film horor jelek. Hanya menenangkan,

"Tenang sayang, itu kan cuma film. Paling juga filmnya jelek,"

Mereka menonton film berjudul Penculik Anak Saya....Jurig!  yang mengkisahkan sama seperti kisah Sang Wanita. Ada perbedaannya, Sang Wanita tidak pernah mencuri dan menculik. Ia hanya bertemu dengan anak-anak yang tidak pernah diindahkan orang tuanya. Anak-anak itu, ia rawat dengan penuh kasih sayang. Itu agar Sang Wanita bisa menghindarkan anak-anak dari ketololan orangtua mereka. Namun ia dianggap sebagai pemangsa anak-anak. Sungguh menyebalkan baginya. Tapi itulah kenyataan yang Manusia anggap akan dirinya. Dia dianggap sebagai Setan yang Haus Darah dan tidak mempunyai perasaan.

***

Sang Wanita masih bertengger dipohonnya. Ia menatap semua orang yang tidak suka kepada dirinya tanpa sebab yang jelas dan rasional. Mereka semua berusaha menguji dirinya dan mencoba melawan ketakutan yang sudah dipasang di pikirannya. Yang ia ingat, mereka semua dibunuh oleh roh jahat lain. Kenapa roh jahat lah yang membunuh? Kenapa bukan Sang Wanita? Sang Wanita hanyalah hantu yang lemah dan menerima. Maka dari itu, roh jahat lain suka memanfaatkan dirinya. Sang Wanita mendapati sanubarinya nyaris terkubur. Apa yang ia harus lakukan?

Kemudian, Ia mendapatkan hadiah yang belum pernah ia dapatkan. Seorang gadis muda mendatangi dirinya dan bergumam didepan pohonnya. Sang Wanita menatapnya pucat dengan penuh arti. Dirinya tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Aku minta tolong Kamu Membawaku kepadamu,"

Sang Wanita tersenyum. Ia tidak pernah menyesal apa yang ia lakukan. Ia melayangkan wanita ini kesisinya. Mereka berdua bertatapan dan bertemu, sang Wanita hanya menatapi gadis muda itu.

"Aku ternodai. Aku ingin ku bersama kau. Bolehkah?"

Mereka menatapi langit senja yang semburat emasnya mulai meredup. Mereka menghatur air mata dan sedikit senyum. Mereka abadi disana. Hingga Pembalik Dunia menjemput mereka.Sang Wanita bergumam lirih akhirnya, dia menatap mata disebelahnya. Tangis kembali kepadanya,

"anakku..."

Dari kejauhan terdengar sirine ambulans. Seorang wanita ditemukan meninggal akibat diperkosa. Wanita itu adalah gadis muda.

CERPENGET: SAPUTANGAN MERAH DI POHON JATI

"Aku mencintaimu, Arimbi" rintih Angga sambil menatap Arimbi.

Arimbi berdiri di batang sebuah pohon jati yang sudah tua sekali. Lumut-lumut telah dibiarkan mengkudeta permukaan batangnya. Disekeliling pohon jati itu, tidak ada pohon lain yang berkuasa atas tanah itu. Tapi di sekelilingnya, padang ilalang bagaikan kain sutra kuning yang berombak halus seiring angin menerpa. Semua tahu, itu adalah suasana nyaman, dan romantis.

"Apa yang harus kulakukan agar kamu turun?" tanya Angga pada Arimbi.

Angga berdiri di tanah yang gembur. Tanah itu cokelat. Menjadi saksi sebuah percintaan atas keturunan Adam dan Hawa. Tanah itulah yang sering ditapaki, diinjak, dilompati, diduduki, ditendang, dielus, dan dipersonifikasikan oleh Angga dan Arimbi. Entah untuk apa. Namun kini, tanah tidak membantu. Tanah hanya bisa menjadi Yang Dipijak. Yang membuat Angga bisa di tempatnya sementara Arimbi tidak terjatuh dari pohon jati tersebut. 

Arimbi mengaitkan sehelai saputangan merah di pohon jati. Sesudah itu, ia tersenyum sekilas kepada kekasihnya. Mungkin untuk meminta maaf tanpa kata. Kemudian ia melompat, melompat ke padang ilalang kuning yang bagaikan kain sutera dihempas angin semilir.

***

Suara Biola terdengar seiring makam Arimbi diarak ke makam. 

Suara Biola mengeras. 

Mengeras.

Dalam pikiran Angga.

Kepala Arimbi, terjatuh tepat di atas batu tajam. Naas nasibnya. Tiada maaf untuk Angga dari keluarga Arimbi. Pasalnya, Arimbi tidak pernah bergaul dengan siapapun kecuali kekasihnya yang sangat ia sayangi, keluarga Arimbi bisa memahami bilamana cinta mengalahkan hubungan humaniora seorang individu dengan keluarganya. Namun, apabila cinta yang belum ditaksir bahagia yakni belum mencapai pelaminan, harus berakhir dengan kematian, mana keluarga pungguk akan rela? Namun keluarga Arimbi tidak mengatakan apapun untuk Angga. Mereka semua tengah berbagi kesedihan. 

Suara biola kembali merasuki pikiran Angga.

Makam ditaruh di liang lahat. Tanah gembur, saksi percintaan Angga dan Arimbi, menutup Arimbi dari pemandangan kasat mata manusia selamanya. Arimbi ditimbun tanah. Keluarga Arimbi mengeluarkan tangis pecah. Sang Ayah ingin memukul. Namun rasanya ia lebih membiarkan semua perasaan dingin menusuk mereka semua. Dan Angga tahu, didiamkan itu artinya memberikan rasa bersalah baginya.

***

Masih kulihat saputangan merah di pohon jatiMasih terngiang pikiran itu, entah kenapa. Wajah terakhir Arimbi kala ia terjun. Entah kenapa masih ia lihat. Ia masih melihat ilalang yang sama, menyaksikan kepedihan terakhir Angga dan Arimbi. Namun rasanya Angga kini harus berjuang sendiri tatkala Arimbi sudah berakhir. 

Apakah Arimbi Ada?

Arimbi Membisikkan Sebuah Kalimat Kepadaku..

Angga, Angga.... 

Ambil Saputangan Merah di Pohon Jati  yang kuikat padanya. 

Angga terbangun di kamar tidurnya kala mimpi itu terjadi. Sehingga ia datang ke pohon jatitersebut. Kemudian Angga memanjat pohon jati itu sembari menatapnya dalam diam dan kemurungan. Kemudian sehelai saputangan merah ia ambil dan ia membaca tulisan elok nan indah. Itu tulisan Arimbi.

Kamu tahu, Angga.

Banyak kebohongan di sekitar kita. Bahkan antara kita sendiripun, banyak kebohongan pula. Aku sudah berdosa kepadamu Angga. Aku sudah berdosa. Aku telah membuat sesuatu yang membuat kau sangat kecewa. Apakah kita sebenarnya menyimpan kebohongan? Kurasa kita tidak munafik.

Angga bingung, munafik? Munafik pada siapa?

Semilir angin yang membuat ombak di hempasan kain sutera kuning menyampaikan suara takdir dari langit nun jauh disana. Hanya untuk Angga.

"Angga, kamu dan Arimbi membohongi takdir,"

Angga kemudian kembali terkulai.

Kulai itu masih tampak kala ia sampai ke makam Arimbi. Makam Arimbi masih merah tanahnya.

"Adikku, maafkan aku,"

Kemudian ayah Arimbi datang dan menatap anaknya sedang tampak menyesali perbuatannya. Tapi ia tak mau berbuat apapun.

"Sudah kukatakan, kau akan menyesal, Angga." kata Ayah Angga.

Kemudian kain sutera kuning berhenti ditiup semilir angin. Angga tidak bisa mengelak takdir lagi.

CERPENGET: ANAK SEMATA WAYANGKU


Waktu itu semua benda yang bisa berlari, tengah berlari. Mereka tentu saja tidak benar-benar berlari karena mereka semua benda. Tapi benda-benda itu bisa berlari, kok! Dan merekapun hingga waktu ini terus saja berlari. Mereka seakan takut kala melihat perutku yang membuncit.

Aku suka memanggil salah satu dari benda itu. Benda itu sejenis jam weker berbentuk tokoh kartun Doraemon. Wajahnya sadistik dan kecut, ingin melahapku.

“Hei, kenapa kalian lari dariku?” tanyaku kepada jam weker (Doraemon)
“Itu gara-gara perutmu!”
“Memangnya kenapa dengan perutku?”
“Perutmu membuncit bagaikan bandit merkedit, Ibu-ibu muda! Kau tak tahu apa yang terjadi ketika saatnya tiba?”
“Memang ada apa di saat tiba itu?”
“Perutmu akan mengeluarkan sesuatu yang berpengaruh bagi dunia ini. Maka kami lari?”
“Apakah dia jahat sehingga kamu berlari darinya?”
“Itu semua tergantung kamu. Rini.”

***

Aku membuka mataku yang sulit untuk memjamkan mata lagi. Aku melihat jam weker Doraemon yang ada di meja rias. Namun disebelahku ada Toni yang tertidur. Wajahnya yang terlihat seperti anak kecil yang kelelahan membuatku tidak tega membangunkannya. Aku keluar dari selimut dan kencing. Di dudukan kloset aku melihat sebuah benda yang asing bagiku. 

Benda itu aku lihat dan aku celupkan ke lubang kloset. Aku terdiam, ditemani lampu yang memaramkan toilet.

Masih lama.

Aku melihat dua garis di benda itu muncul tiba-tiba.

Oh, ya. Aku hamil.

Aku langsung berlari ke kamar tidur dan mengguncangkan suamiku yang tidak pernah dibangunkan selarut itu. Aku melihat sendiri ia terbangun dengan raut muka yang masam. Aku berkata kepadanya dengan mataku yang berbinar. Seorang pelukis impresionis, apakah Toni menyadari arti kebinaran mataku itu?

“Kenapa, Rin?”

“Aku hamil, Mas. Hamil.”

Dia membuka mata dan merengkuhku. Ia bergetar, sebuah amplitudo yang tinggi untuk emosinya yang baru tercipta dari kembang tidur.

“Coba, ulangi lagi, Rin…” ia menggeletukkan giginya dan mulai menggigil.

“Iya, Mas. Aku hamil. Aku hamil. Hamil….”

***

Aku tidak tahu mau mengutuk janin ini atau tidak. Bayi bagaikan hadiah undian mobil ditanggung pajak. Harus ditebus dengan kerelaan yang besar. Namun Toni membesarkan hatiku dengan lukisannya. Lukisan-lukisan itu ia gambar ketika Jabang masih berumur 4 bulan. Minggu depanpun akan segera dibuka pamerannya. Sementara itu, aku sedang agak gugup karena 3 hari lagi Jabang akan keluar. Toni berusaha menghiburku dengan permainan wayang kulit tradisional dengan narasi modern yang cenderung ngawur. Aku menyukai hal tersebut, apalagi aku kurang tertarik dengan ceritanya yang asli. Terlalu banyak tokohnya, aku akui kepada Toni saat ia tahu aku bosan melihat permainan wayang kulit yang asli.
Jabang akan mengusaikan penderitaanku. Penderitaanku membawa gumpalan hingga susahnya naik ke lantai 3. Untuk saja kamu tidak keguguran. Jabang akan meneror Doraemon, namun itu tergantung diriku sendiri. Aku tidak tahu nama yang akan kuberikan kepadanya.

Aku melamun di rumah.

Tiba-tiba aku jatuh dari tangga lantai tiga.

Aku mendapati pingsannya diriku yang membuatku bergetar.


Selangkanganku hangat, dan kental.

***

Aku terbangun di sebuah bilik yang mewah. Oh, aku masih hidup.

Si jabang? Apakah ia selamat?

Ketukan sepatu pantofel dan hak berima kepada kamarku. Pintu terbuka. Ada Toni yang memakai baju lukisnya dan seorang dokter dan dua suster. Dokter itu menghampiriku dan berkata

“Semuanya baik-baik saja, Bu Rini,”

“Ah, dokter. Siapa yang nanyain semuanya? Aku belum bertanya. Yang ingin kutanyakan adalah keadaan si Jabang, dimanakah dia?”

“Dia sudah berada di tempat yang aman, bu. Ibu tidak perlu khawatir.”

“Ya sudah, saya mau lihat.”

“Lebih baik Ibu istirahat dulu. Ibu masih belum mampu untuk mencapai tempat itu.”

“Ah ya!!! Dokter ini kok tolol sekali sih! Kan saya yang punya Jabang! Saya punya hak untuk melihatnya. Memangnya dokter ini saya? Sok tahu kalau saya tidak mampu untuk pergi ke tempat Jabang! Lagian kan, dokter bisa antarkan Jabang ke sini! Kan sudah aman, gimana toh!? Dasar dokter e…”

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, jarum suntikan mencoblos kulit.

Dasar… dasarr…..dasa…….

Aku melipatgandakan lagi penglihatanku. Dan itu buram.

***
Aku bangun lagi. Tapi tidak segar. Aku lelah habis berkejaran dengan Doraemon.

Benda-benda itu masih bergerak dan berlari. Aku mencegat jam weker itu. Ia menjawab kenapa aku tidak bisa melihat Jabang

“Ah, kamu. Kan kamu yang punya bayi. Masa gak lihat? Buta ya?!”

“Doraemon, janganlah kamu kasar. Saya kan hanya ingin tahu.”

“Oh, begitu. Kalau begitu anakmu ada di sebelahmu begitu kamu bangun.”

“Kok bisa?”

“Ya, bisa dong. Kamu kan edan.”

“Ah yang betul. Ngaco ah,”

“Nah, itu kamu edan.”

“Kamu yang edan! Masa semudah itu mencapai anak yang sulit diraih,”

“Kamu lebih edan lagi, mana mungkin benda bisa berbicara !?”

Nah begitu, kemudian aku terbangun dengan tidak segar. Capek adu mulut dengan robot biru muda yang lusuh. Ketika aku 
terbangun, aku melihat ada anakku di sebelah!

Oh, tuhan ! Jabang!

Aku meraih dan memeluknya. Ia merengut-rengut kecil, kepalanya agak kasar, namun hidungnya mancung. Kakinya sungguh sempurna bagaikan kayu. Ia mungkin adalah makhluk paling sempurna di dunia. Aku membuka baju dan langsung menyusuinya.

Ia mengendot sedikit, kemudian mendengkur. Aku memeluknya perlahan. Tubuhnya tidak lagi merah. Kutimang-timang Jabang Tanpa Nama itu. Sambil kudera kecil-kecil hidungnya. Jendela yang menampilkan horison mendung membuatku nyaman. Ingin lebih lama bersama Jabang.

Kemudian pintu terbuka.

“Rini, kamu sudah siuman?”

“Iya, Mas. Mas, kenapa dia baru ada disini? Aku dimana?”

“Kita ada di rumah, Rin. Kamu sudah boleh rawat di rumah.”

“Oh, Mas. Anak kita sempurna ya, Mas.”

“Rini. Kamu kecewa tidak, kalau mendengar kabar ini?”

Toni adalah orang yang sering memberitahukan duka tanpa babibu. Tapi karena ada Jabang. Aku siap untuk menanti.

“Kamu tidak bisa melahirkan lagi, Rini. Terjadi kecelakaan hebat di dalam kelaminmu sehingga …yah… aku hanyalah 
seorang yang hanya bisa menerima fakta. Bukan menyelidikinya.”

Aku membeku dan menatapnya. Aku mau menangis, tapi aku melihat Jabang.

“Tidak apa, mas. Kita akan tumbuhkan Jabang jadi orang yang sempurnaDengan itu ia lebih berharga dibanding seribu anak di dunia ini. Dia adalah anak semata wayang kita, Mas.”

“Rini, aku paham dengan kesedihanmu. Terima kasih untuk semua ketegaranmu ini,”

“Sama-sama, Mas.”

“Lain-kali ganti boneka saja, tapi aku takut kalau kamu jadi gila,”

“Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.

“Ah, sudahlah. Buah pikiran tanpa akar.”

***

Rini dan Toni berengkuhan menatap Jabang di dalam rengkuhan Rini. Rini bersenandung kecil sementara Toni harus tersenyum meringis melihat istrinya menggendong wayang kulit kecil miliknya.

Diluar dunia itu, didalam sebuah ruang berdimensi antah berantah. Benda-benda itu masih berlari dan berlari. Ribuan jam weker berlari entah kemana. Jam weker Doraemon istirahat sambil makan Dorayaki, ia mengelus bel kucingnya. Jam weker Captain America datang.

“Kenapa kamu? Istirahat bukannya berlari?”

“Dia belum menyadari ilusinya sendiri,”

“Oh begitu, ya sudah aku istirahatlah.”

Sekali lagi Doraemon mengelus bel kucingnya. Seraya nina bobo terhadap wayang kulit itu menggema di dunia itu.

Menyadarkan sunyi. Memalsukan asli.
Senin, 13 Juni 2011.
Tiba-tiba tercetus. Tiba-tiba meletus.

CERPENGET: INGIN JADI PEMUDA BANGSA YANG BENAR

Namanya Tino. Ia kini duduk di sebuah angkot 37 sambil merogoh-rogoh isi tasnya. Ia berusaha mencari sesuatu yang sepertinya berharga untuknya. Ternyata itu adalah buku UUD 1945 dengan amandemen terbaru tentunya. Tino lega sekali. Ia tidak seperti remaja lain yang menginginkan desain baju yang bagus atau pacar cantik, namun ia ingin menjadi pemuda bangsa yang benar.

Ia duduk di angkot. Tentu saja. Sepanjang perjalanan hanya satu yang ia baca, UUD 1945. Mungkin hal itu akan dianggap aneh oleh orang-orang dari SMA sebelah yang melihat Tino begitu serius membaca kata demi kata yang tertera di buku saku itu.

Kagum betul. Ia kagum betul dengan bagaimana hukum-hukum itu ada. Tapi ia tidak suka kala hukum-hukum itu dianggap tidak ada. Istilahnya menjadi pembela kebenaran begitu. Dasar hidup, ia tidak dilingkupi oleh lingkungan yang rawan. Ya, itu adalah anugerah yang dianggap azab oleh Tino.

***

Di sekolahnya yang mentereng, seperti biasa ia maju ke podium untuk cuap-cuap mengenai undang-undang.
“Bocah tua,” umpat Emet yang kepanasan. Ia sebal sekali dengan si Tino yang belagak tahu mengenai undang-undang. Entah apa yang membuat si Tino jadi suka undang-undang dasar, yang jelas itu telah menyeret Emet yang paling tidak suka berdiri terlalu lama jadi gundah gulana. Ingin ia mengusili Tino pasca pidato. Ide yang sangat licik dan kekanak-kanakan, tetapi menurut Emet itu adalah cara yang baik untuk menuntaskan ekspresinya.

Seusai pidato, Tino ke toilet, karena di toilet lama-lama tidak melanggar hukum, Tino berlama-lama disana. Entah apa yang ia lakukan disitu. Sementara itu Emet mengendap-endap ke kelas Tino yang masih sepi. Ia membuka tas Tino dan menemukan yang ia cari: Buku UUD 1945 dengan Amandemen Terbaru yang bentuknya sudah kucel karena terlalu sering dibaca. Tino mengeluarkan spidol dari kantung celananya dan mencoret-coret buku itu. Buku itu diletakkan lagi ke dalam tas dan ia berlalu. Sayang sekali Emet yang kekanak-kanakan tidak menyadari Madi, seorang pendiam di kelas Tino yang ahli dalam “tidak disadari keberadaannya”.

Sudah barang tentu, ketika Tino kembali ke kelas, Madi memberitahukan hal itu. Karena memberitahukan perilaku orang lain yang disuruh tidak dirahasiakan itu tidak melanggar hokum, maka Madi memberitahukan hal tersebur.
Sudah barang tentu pitam Tino melambung ke termosfer.
Api biru nyembur dari matanya.

***

Seusai sekolah Tino duluan, ia ingin mencegat si Emet. Emet sih sudah lupa dengan kejadian yang ia perbuat karena tadi siang, ia ditraktir satu kelas karena keberhasilannya menjahili guru bahasa, Ibu Bernadine, dengan menaruh ludah di tas kantornya. Rencana Emet hari ini minta uang kepada ibunya agar Emet bisa membeli majalah terbaru. Bukan majalah sembarangan tentunya. Dia kan, sejenis anak badung begitu. Ia ingin membeli sebuah majalah game yang akan ia gunakan untuk kejahilan selanjutnya di rental PS. Itulah anak SMA masa kini yang ia kira ia pikirkan.

Tiba-tiba pundaknya ditarik. Emet jadi kaget.

“Tino!” teriak Emet

Emet ditarik ke belakang sekolah. Biasanya tempat itu menjadi tempat paling oke untuk melakukan perbuatan terlarang seperti merokok atau pacaran. Tapi kali ini Tino dan Emet mungkin akan memberikan inspirasi baru untuk aktivitas di tempat itu, ya, berantem! Tapi karena menganiaya manusia itu melanggar hukum, maka Tino hanya menghempaskan Emet ke semak belukar.

“Apa-apaan ini?”
“Kamu tuh yang apa-apaan!”
“Tentu kamu!”
“Ya, kamu yang sudah mencoreng-coreng buku UUDku yang Cuma satu-satunya,”
“Hei! Jangan asal tuduh! Kau pikir aku ini bodoh apa, difitnah begitu, mau?”
“Kau itu yang buta! Masa’ tidak tahu kalau si Madi itu ada disana,”

Oh sudah, muka Emet langsung kering begitu.

“Kok tahu?”
“Ah, pengakuan.”
“Ups.”
“Ya. Kini kamu mau dihukum apa?”
“Memangnya ada hukuman untuk mencoret-coret buku?”
“Ya, ada!”
“Lantas bagaimana dengan anak yang menuliskan tulisan di belakang buku,”
“Sementara itu Cuma sekadar catatan, udik!”
“Jadi itu yang namanya mencoret buku dengan coretan yang tidak satu konten dengan buku itu melanggar hokum?”
“Tentu saja!”
“Coba berikan hukumnya?!”
“Ya, pake nalar dong.”
“Kalau begitu, silakan lihat ini. Ini punya kamu bukan?” Tanya Emet
Ia mengulurkan buku Matematika paket milik Tino.
“Mmm, iya.”
“Coba lihat halaman belakangnya,”

Ia melihat buku yang ada nama di stiker. “TINO”

DI belakangnya ada tulisan
“TINO ADALAH PEMUDA BANGSA YANG BENAR”

Dan itu adalah banyak sekali.

“Ah, kamu melanggar hukum,”

Tino terjatuh. Emet berjalan ke depan sekolah dan naik angkot

“Untung kuambil buku Matematikanya di tas.” Emet tidak menyesal telah mencoretnya.

Dan karena angkot yang melaju tidak melanggar hukum. Jadi angkot itu tidak dihentikan siapapun.

17 Juni 2011

CERPENGET: SEGELAS AIR PUTIH

Seorang pria baru saja mengkonfirmasikan reservasi yang telah ia lakukan. Serang waitresstampak kurang yakin dengan yang ia antarkan. Bayangkan saja, seorang pria yang hanya mengenakan kaus oblong, berjaket jeans, bercelana flanel dan berjenggot tipis mau santap malam disini, sendirian lagi. Apakah ia punya uang untuk membayarnya? Tapi reservasi disini begitu mahal disini dan sulit, pastilah orang ini beruntung (atau memang mampu). Dengar-dengar, orang kaya jaman sekarang itu rata-rata tidak memakai pakaian yang simbolis dengan statusnya.

Pria itu namanya Herman. Ia berumur 25 tahun. Ia tinggal di kos-kosan murah dan ia terakhir kali mencukur jenggotnya 1 bulan yang lalu. Ia memang tidak disitu untuk makan. Ia hanya ingin minum. Ia hanya ingin minum air putih.

“Silakan, pak. Menunya,”

Herrman diberikan daftar menu dengan deretan makanan dan minuman yang eksklusif dan mahal. Tapi pria itu sendiri tidak dapat mengelak takdir yang sudah diberikan. Ia memuttuskan untuk membaca sebentar, samnpai takdir yang sudah diberikan memberikan kesempatan baginya untuk menghentikan pelayan lain dan meminta pesanan.

2 menit kemudian ia memanggil pelayan itu.

“Segelas air putih,”

Ada lagi?

Tentu saja tidak. Itu bukan takdir yang diberikan. Ia hanya memesan segelas air putih. Dan pelayan itu tentu saja bersungut dalam hati sambil melihat Herman. Mendongkol sambil membawa menu makanan. Ia tidak terlalu suka hidup sebagai waitress namun ia lebih tidak suka lagi ada pria yang memutuskan sendiri kelasnya.

Seorang pria kucel, kenapa harus mau minum di restoran kelas atas? Cuma minum air putih pula! Apalagi ia mengenakan busana yang tidak pantas. Benar-benar menyebalkan. Tapi karena tamu adala raja. Segembel apapun penampilannya, ia tetaplah raja.

Dan disaat orang memesan anggur mahal ataupun jus-jus dengan saringan berkualitas, ia tetap akan memesan air putih, karena itulah takdirnya.

Dan kurang dari 5 menit , air putih itupun datang. Herman meneguknya, seperti orang lain entah kenapa disaat yang sama meminum anggur putihnya, anggur merahnya, jusnya, sari apelnya, tehnya, kopinya, es cendolnya, birnya, dan es lemon teanya. Semuanya meminum dengan hikmat. Baru selesai menyelesaikan minumannya. Tetapi, ada yang berbeda. Tidak ada senyum lega malam itu.

Satu persatu orang bergetar. Mulut-mulut mereka bergetar dan busa dikeluarkan dari mulut-mulut itu. Makanan yang telah usai tidak diselerakan untuk ditambah, makanan yang belum usai tidak lagi diselerakan untuk disantap. Tak ada lagi bersantap malam itu di restoran malam itu.

Gelimpang tunggal, gelimpang dwi, gelimpang tri, gelimpang catur, dan gelimpang-gelimpang lain. Semuanya yang meminum, kecuali Herman. Herman tetap duduk di meja makannya sambil meminum teguk demi teguk air putih sampai air putih itu usai tersedot ke dalam mulutnya.

Dan herman pergi dari restoran kelas atas yang diiringi simfoni teriakan. Teriakan karena orang-orang bergelimpangan.
Berita Koran esok hari menegaskan, adanya gula yang digunakan ternyata tercampur zat kimia berbahaya yang  mana gula itu digunakan untuk mengaduk semua minuman. Ya, semua minuman. Kecuali air putih.

Herman tidak punya ekspresi apapun. Ia hanya menjalankan takdir, dan Herman tidak punya ketakutan. Ia hanya tidak pernah memulai untuk melanggar takdir, dan takdir itu tidak pernah mencelakakannya. Semua tertulis dalam kitabnya. Semua tertulis dalam kodratnya. Dan juga kodratnyalah untuk menukarkan gula dengan zat kimia itu. Dan jugalah…. Dan jugalah…

Go Home for Another Fantasy

19 Juli 2011