Ia adalah seorang wanita, dulunya. Ia tidak pernah mengingat bagaimana ia dulu pernah mencecap kehidupan nyata laiknya manusia. Ia hanyalah seorang wanita. Wanita. Itu hanyalah yang ia ingat. Ia hanya mengingat bahwa ia wanita. Kemudian, sesuatu mulai terjadi kepadanya. Entah apa yang terjadi. Mungkinkah ia meninggal? Mungkin saja, mengingat ia kini sudah menjadi hantu.Sang wanita duduk terdiam disebuah pohon besar ditengah hutan. Dalam benaknya, kenapa ia bisa berada disini? Hanya nalar yang membuatnya bertahan hidup. Benar, hanyalah nalar.
Suatu pagi. Di masa lalu. Saat itu hujan deras. Embun tidak berkutik kepada air hujan yang menusuk semua hal yang berada dipermukaan bumi, begitupun sang wanita.Sang Wanita duduk, bertengger di dahan besar pohonnya. Sang Wanita hanya melamun, ia tidak memperhatikan apapun. Ada yang aneh darinya, Sang Wanita memang tidak mempunyai sama sekali hal untuk berada disini, bahkan berhak. Tapi yang jelas ia tahu, tidak ada yang mengganggunya. Hal itu membuatnya senang. Ia layaknya binatang buas yang lebih memilih menjauh, bukan menerkam. Ya, ia tidak tahu apakah ia bisa menerkam. Tetapi di satu sudut di sanubarinya, Ia selalu berharap bahwa sanubarinya masih memunculkan hal yang sama, yakni rasa menjaga. Itulah hal yang selalu ada di benaknya dan tidak pernah dilupakan. Ia tidak tahu bagaimana sanubari rasa menjaga berada dalam dirinya.
Kata orang. Orang dahulu. Ia dulunya adalah seorang wanita. Wanita yang sangat mengagungkan rambut sebagai mahkotanya yang terindah. Wanita ini sangat mencintai rambutnya. Setiap hari, setelah bekerja keras menghidupi dirinya maka ia akan mencuci dan merawat rambutnya dengan sempurna. Ia juga orang yang berbudi santun dan suka menolong dan baik terhadap siapa saja. Tidak ada satupun orang yang mempunyai prasangka buruk terhadap dirinya. Sampai saat itu datang. Saat itu malam hari. Wanita berjalan menyusuri sungai dan hutan untuk mencari rumahnya. Ia tersesat setelah terperosok kedalam jurang kecil. Ia takut pada kegelapan. Dan Ia berusaha memadamkannya. Saat ia berhasil menyusuri hutan dan sampai ke rumah. Wanita benar-benar merasa bakal tertimpa suatu yang buruk. Dan saat ia berniat menutup daun pintu rumahnya, ada seseorang yang datang, dan memukul dirinya. Wanita ini tidak mengetahui apa yang terjadi kepadanya kemudian. Kata Orang, ia diperkosa oleh pria itu dan sang pria meninggalkannya dikasur. Kemudian, sang wanita terbangun dan menemukan dirinya ternoda. Ternoda aib, ternoda mani, ternoda darah. Ia menangis sesenggukan, merutuk sekeras dan sedalam-dalamnya kepada pria yang telah menodainya.
Sebulan kemudian, ia hamil, sang Wanita menutup diri. Ia membeli perbekalan selama sembilan bulan dan menanam tanaman-tanaman obat di belakang rumahnya. Wanita ini sengsara, tapi ia yakin anak yang berada dalam kandungannya pasti menjadi harapan. Namun, terjadi lagi hal yang memilukan. Banyak versi yang terjadi untuk akhir sang wanita kenapa ia meninggal. Ada dua yang terkuat dalam penjelasan lisan dan tulis. Pertama:
Sang Wanita dianggap Sundal dan Pezina oleh Kampungnya saat Ia hamil. Saat rembulan kelima datang di saat Kehamilannya. Sang Wanita ditarik keluar oleh Warga dan Ia Dibunuh. Puluhan Tombak dan Ribuan Cacian Ia Hadapi. Sang Wanita meninggal bersama Sang Bayi.
Versi itulah yang menjadi versi yang populer. Tetapi ada lagi yang mengatakannya lagi:
Sang Wanita dalam Kehamilannya, Bulan Ketujuh. Ia kedatangan tamu. Tamu itu Ayah dari Anaknya. Sang Wanita melawan saat Sang Bejat mencoba menggugurkan paksa Wanita. Akhirnya, Sang Bayipun gugur keluar, tetapi ia tidak sepenuhnya gugur. Sang Bayi selamat dengan keadaan yang baik. Kemudian Wanita melemparkan anaknya keluar. Sang Anak lalu dipungut oleh Seseorang. Lalu, Sang Wanita dan Sang Pria berduel hingga Fajar. Saat ditemukan Warga, mereka tidak melihat satupun Tubuh yang Utuh.
Sang Wanita Mendendam? Tidak! Mungkin ya, tapi juga tidak! Sang Wanita sangat mencintai kehadiran bayi. Ia selalu menyayangi bayi dan menjaganya. Dahulu, semua Ibu yang baru Melahirkan selalu merasa aman tentang kehadiran dirinya. Maka dari itu, kehadiran Sang Wanita dipercaya sebagai pelindung.
ZAMAN BERUBAH
Tiada lagi yang mempercayainya. Ia hanya mitos. Dan itulah yang paling memilukan untuknya. Sang Wanita tidak mencoba untuk meluruskannya. Selama dua generasi saja, kepercayaan yang ia dapatkan dari Manusia sudah berbeda jauh. Sang Wanita tidak diharapi, ia diperangi. Sang Wanita menangis sendu dipohonnya. Cakrawala menghiburnya dengan pergantian Kegelapan dan Cahaya. Namun, Sang Wanita tidak lagi bisa berkutik kepada hal tersebut. Sang Wanita sudah pilu. Dan apakah yang bisa dibuat dari kepiluan setan? Sang Wanita menjadi merasa aneh. Ya, pada saat ia nekad menolong persalinan seorang Bunda, orang itu malah berteriak dan menyuruh Sang Wanita untuk pergi. Ia menganggap Sang Wanita akan mencelakakan dirinya. Kendati tidak begitu. Banyak roh jahat yang ada disekitar dirinya dengan kemampuan untuk menyakiti manusia. Namun Sang Wanita tidak bisa diam begitu saja. Ketika Sang Wanita pergi, ia langsung diburu oleh Warga. Warga tidalk tahu sebenarny siapa dia, namun apabila sebuah sosok yang asing, lebih mudah dikatakan sebagai ancaman. Maka ancaman mendatangi Sang Wanita. Sang Wanita pergi dan terduduk, menangis di pohonnya. Rintihannya itu, dianggap tawa oleh manusia. Keesokan harinya, Sang Ibu harus menerima kenyataan bahwa anaknya habis digerogoti sesuatu. Sang Wanitapun dituduh sebagai pelakunya. Namun Sang Wanita tahu kalau yanjg melakukannya adalah roh jahat lain.
ZAMAN BERUBAH
Kadang kala, sudah tidak ada lagi hal yang bisa ia pertahanakan sebagai sesosok hantu. Yang ingin ia lakukan adalah hanya kembali ke tempat asal. Namun apa yang harus ia lakukan disana sementara bahkan ia tidak bisa kesana. Seharusnya ia bisa. Sang Wanita sering melihat dilangit dan menemukan orang-orang yang meninggal terbang dan melayang ke langit. Namun diantara mereka ada yang pergi ke lautan merah dan ada yang menembus Samudera Perak. Sang Wanita hanya bisa mereunung sementara kehadirannya tidak lagi dianggap sebagai.....ancaman, bahkan ia tidak dianggap sebagai apapun. Ia hanya sebuah mitos yang mendarah daging di masyarakat. Bahkan hingga semua pohon, kecuali pohonnya ditebang dan dijaidikan perumahan.
"Ah sayang, aku takut nih nonton filmnya," Kata seorang wanita berpakaian modis yang menggandeng kekasihnya saat mereka masuk ke sebuah teater di bioskop. Sang pria, sudah berpengalaman menenangkan hati wanita yang mudah takut kepada film horor jelek. Hanya menenangkan,
"Tenang sayang, itu kan cuma film. Paling juga filmnya jelek,"
Mereka menonton film berjudul Penculik Anak Saya....Jurig! yang mengkisahkan sama seperti kisah Sang Wanita. Ada perbedaannya, Sang Wanita tidak pernah mencuri dan menculik. Ia hanya bertemu dengan anak-anak yang tidak pernah diindahkan orang tuanya. Anak-anak itu, ia rawat dengan penuh kasih sayang. Itu agar Sang Wanita bisa menghindarkan anak-anak dari ketololan orangtua mereka. Namun ia dianggap sebagai pemangsa anak-anak. Sungguh menyebalkan baginya. Tapi itulah kenyataan yang Manusia anggap akan dirinya. Dia dianggap sebagai Setan yang Haus Darah dan tidak mempunyai perasaan.
***
Sang Wanita masih bertengger dipohonnya. Ia menatap semua orang yang tidak suka kepada dirinya tanpa sebab yang jelas dan rasional. Mereka semua berusaha menguji dirinya dan mencoba melawan ketakutan yang sudah dipasang di pikirannya. Yang ia ingat, mereka semua dibunuh oleh roh jahat lain. Kenapa roh jahat lah yang membunuh? Kenapa bukan Sang Wanita? Sang Wanita hanyalah hantu yang lemah dan menerima. Maka dari itu, roh jahat lain suka memanfaatkan dirinya. Sang Wanita mendapati sanubarinya nyaris terkubur. Apa yang ia harus lakukan?
Kemudian, Ia mendapatkan hadiah yang belum pernah ia dapatkan. Seorang gadis muda mendatangi dirinya dan bergumam didepan pohonnya. Sang Wanita menatapnya pucat dengan penuh arti. Dirinya tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Aku minta tolong Kamu Membawaku kepadamu,"
Sang Wanita tersenyum. Ia tidak pernah menyesal apa yang ia lakukan. Ia melayangkan wanita ini kesisinya. Mereka berdua bertatapan dan bertemu, sang Wanita hanya menatapi gadis muda itu.
"Aku ternodai. Aku ingin ku bersama kau. Bolehkah?"
Mereka menatapi langit senja yang semburat emasnya mulai meredup. Mereka menghatur air mata dan sedikit senyum. Mereka abadi disana. Hingga Pembalik Dunia menjemput mereka.Sang Wanita bergumam lirih akhirnya, dia menatap mata disebelahnya. Tangis kembali kepadanya,
"anakku..."
Dari kejauhan terdengar sirine ambulans. Seorang wanita ditemukan meninggal akibat diperkosa. Wanita itu adalah gadis muda.