Selasa, 21 Juni 2011

CERPENGET: SAPUTANGAN MERAH DI POHON JATI

"Aku mencintaimu, Arimbi" rintih Angga sambil menatap Arimbi.

Arimbi berdiri di batang sebuah pohon jati yang sudah tua sekali. Lumut-lumut telah dibiarkan mengkudeta permukaan batangnya. Disekeliling pohon jati itu, tidak ada pohon lain yang berkuasa atas tanah itu. Tapi di sekelilingnya, padang ilalang bagaikan kain sutra kuning yang berombak halus seiring angin menerpa. Semua tahu, itu adalah suasana nyaman, dan romantis.

"Apa yang harus kulakukan agar kamu turun?" tanya Angga pada Arimbi.

Angga berdiri di tanah yang gembur. Tanah itu cokelat. Menjadi saksi sebuah percintaan atas keturunan Adam dan Hawa. Tanah itulah yang sering ditapaki, diinjak, dilompati, diduduki, ditendang, dielus, dan dipersonifikasikan oleh Angga dan Arimbi. Entah untuk apa. Namun kini, tanah tidak membantu. Tanah hanya bisa menjadi Yang Dipijak. Yang membuat Angga bisa di tempatnya sementara Arimbi tidak terjatuh dari pohon jati tersebut. 

Arimbi mengaitkan sehelai saputangan merah di pohon jati. Sesudah itu, ia tersenyum sekilas kepada kekasihnya. Mungkin untuk meminta maaf tanpa kata. Kemudian ia melompat, melompat ke padang ilalang kuning yang bagaikan kain sutera dihempas angin semilir.

***

Suara Biola terdengar seiring makam Arimbi diarak ke makam. 

Suara Biola mengeras. 

Mengeras.

Dalam pikiran Angga.

Kepala Arimbi, terjatuh tepat di atas batu tajam. Naas nasibnya. Tiada maaf untuk Angga dari keluarga Arimbi. Pasalnya, Arimbi tidak pernah bergaul dengan siapapun kecuali kekasihnya yang sangat ia sayangi, keluarga Arimbi bisa memahami bilamana cinta mengalahkan hubungan humaniora seorang individu dengan keluarganya. Namun, apabila cinta yang belum ditaksir bahagia yakni belum mencapai pelaminan, harus berakhir dengan kematian, mana keluarga pungguk akan rela? Namun keluarga Arimbi tidak mengatakan apapun untuk Angga. Mereka semua tengah berbagi kesedihan. 

Suara biola kembali merasuki pikiran Angga.

Makam ditaruh di liang lahat. Tanah gembur, saksi percintaan Angga dan Arimbi, menutup Arimbi dari pemandangan kasat mata manusia selamanya. Arimbi ditimbun tanah. Keluarga Arimbi mengeluarkan tangis pecah. Sang Ayah ingin memukul. Namun rasanya ia lebih membiarkan semua perasaan dingin menusuk mereka semua. Dan Angga tahu, didiamkan itu artinya memberikan rasa bersalah baginya.

***

Masih kulihat saputangan merah di pohon jatiMasih terngiang pikiran itu, entah kenapa. Wajah terakhir Arimbi kala ia terjun. Entah kenapa masih ia lihat. Ia masih melihat ilalang yang sama, menyaksikan kepedihan terakhir Angga dan Arimbi. Namun rasanya Angga kini harus berjuang sendiri tatkala Arimbi sudah berakhir. 

Apakah Arimbi Ada?

Arimbi Membisikkan Sebuah Kalimat Kepadaku..

Angga, Angga.... 

Ambil Saputangan Merah di Pohon Jati  yang kuikat padanya. 

Angga terbangun di kamar tidurnya kala mimpi itu terjadi. Sehingga ia datang ke pohon jatitersebut. Kemudian Angga memanjat pohon jati itu sembari menatapnya dalam diam dan kemurungan. Kemudian sehelai saputangan merah ia ambil dan ia membaca tulisan elok nan indah. Itu tulisan Arimbi.

Kamu tahu, Angga.

Banyak kebohongan di sekitar kita. Bahkan antara kita sendiripun, banyak kebohongan pula. Aku sudah berdosa kepadamu Angga. Aku sudah berdosa. Aku telah membuat sesuatu yang membuat kau sangat kecewa. Apakah kita sebenarnya menyimpan kebohongan? Kurasa kita tidak munafik.

Angga bingung, munafik? Munafik pada siapa?

Semilir angin yang membuat ombak di hempasan kain sutera kuning menyampaikan suara takdir dari langit nun jauh disana. Hanya untuk Angga.

"Angga, kamu dan Arimbi membohongi takdir,"

Angga kemudian kembali terkulai.

Kulai itu masih tampak kala ia sampai ke makam Arimbi. Makam Arimbi masih merah tanahnya.

"Adikku, maafkan aku,"

Kemudian ayah Arimbi datang dan menatap anaknya sedang tampak menyesali perbuatannya. Tapi ia tak mau berbuat apapun.

"Sudah kukatakan, kau akan menyesal, Angga." kata Ayah Angga.

Kemudian kain sutera kuning berhenti ditiup semilir angin. Angga tidak bisa mengelak takdir lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar