Rabu, 24 Agustus 2011

Final Destination 6: Buat Sendiri Yukzz Part 1

Ethel meraih ponselnya dan memijit direksi-direksi, hingga menghubungkannya ke Timothy.

"Disana masih hujan, sayang?" tanya Timothy. Timothy menengok ke jendela kantornya. Dibalik kaca-kaca itu, tampak awan buram yang masih menggelontor di langit setelah menuangkan hujan. Gerimis masih tersisa diantara mereka. Sedikit-sedikit terdengar bunyi kilat. Gedung-gedung pencakar langit lain tidak mempunyai daya untuk menolak adanya hujan.

Mengeluarkan aroma sepi. Mengeluarkan aroma sunyi.

"Masih, Tim. Disini lebih deras. Oke, langsung saja, kita jadi makan malam hari ini ? Oh tunggu~Ya? Cellie? Bukan disitu kalau mau taruh berkas. Yak, di laci yang sebelah kirinya lagi. Yak, disitu. Hari ini? Aku ada makan malam. Ya, kau duluan saja ambil file. Oke, oke. Bye...~ Maaf Tim, barusan ada Cellie. Jadi bagaimana?"

"Tidak apa. Aku sekarang sudah keluar dari kantor, dan ups, Ethel. Aku melihat bus. Kita kesana bersama saja. Mau?"

"Boleh juga. Kok kamu tumben manis sekali hari ini? Ada keinginan lain?"

"Ayolah. Tunangan pantas disenangi bukan? Oh ya, aku sekarang menunggu Freddie sebentar. Dia baru selesai sama klien dari Oklahoma itu,"

"Oh, oke. Kau mau aku menunggu?"

"Tentu saja,"

"Ya sudah, kutunggu di depan kantorku, bye,"

"Bye,"

Ethel merapikan berkas-berkasnya dan memakai mantelnya. Seusai memakai, ia menaruh ponselnya di mantel. Sayangnya ponselnya jatuh ke lantai.

"Sial!"

Ethel mengambil ponselnya yang ada di lantai. Tidak sengaja, ia mengambil pula sebuah paku payung kecil  yang kurang jelas terlihat.

"Ouch! Paku payung! Siapa yang menjatuhkannya?"

Ethel mengisap darahnya dan membuangnya di wastafel. Ia mengambil tasnya dan menaruh ponsel di mantelnya. Berjalan menuju keluar. Saat ia keluar dari ruangan kerja divisinya. Ia berpapasan di lorong kantor.

"Ethel! Kau tumben pulang cepat!" seru Monica.

"Yah, Timothy mengajakku makan malam. Jadi aku harus agak cepat sedikit,"

"Makan malam? Dimana?"

"Entahlah. Timothy akan mengantarku jadi aku tidak diberitahu dimana,"

"Mungkin di McKinley Restaurant? Kudengar makanan disana enak?"

Mereka mengobrol sambil turun ke lantai satu. Sampai di lantai satu mereka bertemu dengan seseorang.

"Hannah! Tumben kesini! Ada urusan apa?" Ya, itu Hannah. Dia dimutasi 2 bulan lalu ke Omaha. Dan ia kini berada disana untuk

"Mau ambil berkas, nanti juga kembali lagi."

"Sudah diambil?"

"Mau tunggu sebentar lagi sepertinya. Kalian mau pulang?"

"Tentu! Kami duluan ya!" seru Ethel dan Monica bersamaan. Mereka berjalan beriringan keluar kantor. Disana sudah ada Timothy dan Freddie. Mereka tampak agak sedikit lelah. Namun masih bahagia.

"Hai, sayang," kecup Ethel ke pipi Timothy. Timothy membalasnya.

"Monica juga ikut pulang bersama?" tanya Timothy entah kepada siapa.

"Kau mau menyeberang? Atau naik bus?"

"Menyeberang, ke Abbreton lalu belok lagi ke Praire. Sama?"

"Ya," jawab Monica. Aku lewat Abbreton."

Mereka berempatpun berjalan beriringan. Timothy dan Ethel berbicara dan memimpin jalan disepanjang trotoar. Disebelah mereka ada jalan raya yang cukup berisikan kendaraan-kendaraan yang melaju kencang.

"Seharusnya ada rambu pembatas maksimal kendaraan. Padahal ada penyeberangan jalan untuk orang banyak," keluh Freddie.

"Mereka sudah melakukannya, Fred. Tapi malas saja," ujar Monica.

Trotoar basah itu tidak sampai ujungnya dipijaki keempat anak adam itu. Mereka berhenti di depan sebuah jalur penyeberangan. Jalur ini cukup panjang. Selain mereka berempat, beberapa belas orang lain juga sedang menunggu di depan jalur penyeberangan itu. Lampu untuk pejalan kaki masih berwarna merah. Ethel berjalan ke sebelah jalur untuk melihat-lihat lampu jalan. Disana sepertinya ada pembagian brosur sedikit.

"Agak cepat, Ethel. Sudah mau menyeberang,"

Ethel berjalan agak cepat ke lampu jalanan itu. Sayangnya sepatu bot berhak yang ia pakai kurang mampu menahan bobotnya. Ia oleng ke belakang. Hup!

"Hati-hati, Missie," seseorang berpakaian opsir menjadi bantalan bagi Ethel. Ia tidak jadi jatuh.

'Ah, terima kasih, opsir.... Ronald ?" Ia melihat name tag yang dikenakan opsir itu.

"Sudah kewajiban," ujarnya sambil tersenyum.

Saat Ethel ingin beranjak lagi ke lampu. Ia sudah dipanggil oleh Timothy.

"Ethel! Ayo!"

Ethel menghentikan langkahnya dan bergegas menuju ke arah Timothy. Saat ia berjalan, ia merasakan ada terpaan angin. Angin yang begitu dingin, kering, busuk, mematikan, dan kosong menerpa wajahnya sempurna. Ia yakin, ia merasakan sebuah firasat. Firasat yang aneh.

Ethel berjalan perlahan sementara mobil-mobil berhenti. Kaki Ethel berkeringat dingin, ia memandangi perempatan itu. Rasanya sebentar lagi ia yakin akan terjadi sesuatu. Ia menengok ke arah belakang. Tidak ada apa-apa kecuali orang-orang yang masih menyeberang. Setengah jalan orang-orang lewat, tiba-tiba dari belakang antrian mobil yang sedang berhenti. Ada sebuah truk besar melaju kencang.

"Remnya blong ! Awas!"

Truk itu melaju dan mendorong keras ke mobil-mobil di depannya sehingga mobil-mobil itu terguling ke depan, mobil-mobil itu menghempaskan orang-orang yang ada di depan barisan ke arah kematian. Mereka dilumat dengan kencang. Mobil-mobil yang berada di tiga jalur lain tidak dapat berkonsentrasi ke jalur yang benar. Sebuah truk pemadam kebakaran oleng ke kanan dari lajur di depan. Olengnya truk itu membuat truk itu meniban mobil di depannya yang kapnya berasap.

DUAR!

Bunyi mobil terdengar meledak. Ethel menggenggam tangan Timothy ke arah kanan. Ia panik. Dan ia mencari perlindungan dengan cepat tanpa melihat Timothy. Ia menunduk di sebuah mobil yang setengah terguling. Ia mengintip dari celah-celah mobil. Ada Monica!

"Monica! Ke sini!"

Monica menengok ke arah Ethel. Setengah wajah Monica terbakar oleh ledakan tadi. Jalanan menjadi begitu absurd. Ledakan-ledakan mobil terjadi dimana-mana. Sebuah mobil yang terguling dari lajur lain bergerak-gerak menggelinding ke arah Monica.

"Monica! Awas!"

Mobil itu menghampiri kepala Monica dan mobil itu menghempaskan bodinya di setengah atas badan Monica.

'AARGHHH!!'

Badan Monica tertiban oleh mobil tersebut. Darahnya muncrat ke segala arah.

Freddie berlari. Dirinya melihat kebakaran-kebakaran yang terjadi. Ia segera berlari ke sisi jalur yang lain. Tiba-tiba ia terpeleset. Kakinya jatuh duluan, kepalanya menghantam aspal. Saat ia belum sempat berbuat apapun, kepalanya masih pening. Ada mobil yang terlontar, dari atas, jatuh ke arahnya.

BRAK!

Mesin mobil yang membuat kapnya berasap berada di depan mata Freddie. Freddie tepat ada di bawah kap mobil yang terbalik. Karena panas yang berlebihan, kap itu terlontar. Dan mesin-mesinnya terbakar sempurna. Memanggang Freddie dengan matang.

Ethel menyaksikan semua itu. Beberapa orang yang belum sempat menyeberang menghentikan langkah mereka disebelah. Para pengemudi mobil juga sudah menyingkir ke tepi jalan. Ethel bangkit dari tempat perlindungan menuju kesana. Saat langkah kakinya yang pertama telah selesai. Sebuah van oleng dan melayang. Jatuh tepat di atas tiang listrik. Van itu jatuh dan menimpa orang-orang yang ada di tepi jalan. Kabel listrik yang masih mengeluarkan listrik berukuran beribu-ribu volt jatuh ke bagian bawah van yang mana bensinnya bocor.

BLAR!

Bunyi ledakan membuat Ethel tahu. Van itu meledakkan dirinya dan membuat sebuah efek yang sangat besar. Orang-orang yang baru saja mengira mereka mendapatkan hidup keduanya terkena ledakan. Sebuah lontaran api jatuh tepat di depan Ethel dan Timothy. Disana ada kepala Opsir Ronald yang dilalap api. Ethel menengok ke sebelahnya, ke Timothy.

Tapi ia tidak menyadari.

Yang dari tadi ia genggam itu tangan Timothy.

Dari hanya tangan Timothy.

"AAARGHHH!!!!"

Sebuah mobil yang terlambat mengerem dari lajur lain kehilangan kontrol dan menabrak mobil yang menjadi perisai Ethel. Badan Ethel tergerus. Dirinya muncrat kemana-mana.