Selasa, 21 Juni 2011

CERPENGET: ANAK SEMATA WAYANGKU


Waktu itu semua benda yang bisa berlari, tengah berlari. Mereka tentu saja tidak benar-benar berlari karena mereka semua benda. Tapi benda-benda itu bisa berlari, kok! Dan merekapun hingga waktu ini terus saja berlari. Mereka seakan takut kala melihat perutku yang membuncit.

Aku suka memanggil salah satu dari benda itu. Benda itu sejenis jam weker berbentuk tokoh kartun Doraemon. Wajahnya sadistik dan kecut, ingin melahapku.

“Hei, kenapa kalian lari dariku?” tanyaku kepada jam weker (Doraemon)
“Itu gara-gara perutmu!”
“Memangnya kenapa dengan perutku?”
“Perutmu membuncit bagaikan bandit merkedit, Ibu-ibu muda! Kau tak tahu apa yang terjadi ketika saatnya tiba?”
“Memang ada apa di saat tiba itu?”
“Perutmu akan mengeluarkan sesuatu yang berpengaruh bagi dunia ini. Maka kami lari?”
“Apakah dia jahat sehingga kamu berlari darinya?”
“Itu semua tergantung kamu. Rini.”

***

Aku membuka mataku yang sulit untuk memjamkan mata lagi. Aku melihat jam weker Doraemon yang ada di meja rias. Namun disebelahku ada Toni yang tertidur. Wajahnya yang terlihat seperti anak kecil yang kelelahan membuatku tidak tega membangunkannya. Aku keluar dari selimut dan kencing. Di dudukan kloset aku melihat sebuah benda yang asing bagiku. 

Benda itu aku lihat dan aku celupkan ke lubang kloset. Aku terdiam, ditemani lampu yang memaramkan toilet.

Masih lama.

Aku melihat dua garis di benda itu muncul tiba-tiba.

Oh, ya. Aku hamil.

Aku langsung berlari ke kamar tidur dan mengguncangkan suamiku yang tidak pernah dibangunkan selarut itu. Aku melihat sendiri ia terbangun dengan raut muka yang masam. Aku berkata kepadanya dengan mataku yang berbinar. Seorang pelukis impresionis, apakah Toni menyadari arti kebinaran mataku itu?

“Kenapa, Rin?”

“Aku hamil, Mas. Hamil.”

Dia membuka mata dan merengkuhku. Ia bergetar, sebuah amplitudo yang tinggi untuk emosinya yang baru tercipta dari kembang tidur.

“Coba, ulangi lagi, Rin…” ia menggeletukkan giginya dan mulai menggigil.

“Iya, Mas. Aku hamil. Aku hamil. Hamil….”

***

Aku tidak tahu mau mengutuk janin ini atau tidak. Bayi bagaikan hadiah undian mobil ditanggung pajak. Harus ditebus dengan kerelaan yang besar. Namun Toni membesarkan hatiku dengan lukisannya. Lukisan-lukisan itu ia gambar ketika Jabang masih berumur 4 bulan. Minggu depanpun akan segera dibuka pamerannya. Sementara itu, aku sedang agak gugup karena 3 hari lagi Jabang akan keluar. Toni berusaha menghiburku dengan permainan wayang kulit tradisional dengan narasi modern yang cenderung ngawur. Aku menyukai hal tersebut, apalagi aku kurang tertarik dengan ceritanya yang asli. Terlalu banyak tokohnya, aku akui kepada Toni saat ia tahu aku bosan melihat permainan wayang kulit yang asli.
Jabang akan mengusaikan penderitaanku. Penderitaanku membawa gumpalan hingga susahnya naik ke lantai 3. Untuk saja kamu tidak keguguran. Jabang akan meneror Doraemon, namun itu tergantung diriku sendiri. Aku tidak tahu nama yang akan kuberikan kepadanya.

Aku melamun di rumah.

Tiba-tiba aku jatuh dari tangga lantai tiga.

Aku mendapati pingsannya diriku yang membuatku bergetar.


Selangkanganku hangat, dan kental.

***

Aku terbangun di sebuah bilik yang mewah. Oh, aku masih hidup.

Si jabang? Apakah ia selamat?

Ketukan sepatu pantofel dan hak berima kepada kamarku. Pintu terbuka. Ada Toni yang memakai baju lukisnya dan seorang dokter dan dua suster. Dokter itu menghampiriku dan berkata

“Semuanya baik-baik saja, Bu Rini,”

“Ah, dokter. Siapa yang nanyain semuanya? Aku belum bertanya. Yang ingin kutanyakan adalah keadaan si Jabang, dimanakah dia?”

“Dia sudah berada di tempat yang aman, bu. Ibu tidak perlu khawatir.”

“Ya sudah, saya mau lihat.”

“Lebih baik Ibu istirahat dulu. Ibu masih belum mampu untuk mencapai tempat itu.”

“Ah ya!!! Dokter ini kok tolol sekali sih! Kan saya yang punya Jabang! Saya punya hak untuk melihatnya. Memangnya dokter ini saya? Sok tahu kalau saya tidak mampu untuk pergi ke tempat Jabang! Lagian kan, dokter bisa antarkan Jabang ke sini! Kan sudah aman, gimana toh!? Dasar dokter e…”

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, jarum suntikan mencoblos kulit.

Dasar… dasarr…..dasa…….

Aku melipatgandakan lagi penglihatanku. Dan itu buram.

***
Aku bangun lagi. Tapi tidak segar. Aku lelah habis berkejaran dengan Doraemon.

Benda-benda itu masih bergerak dan berlari. Aku mencegat jam weker itu. Ia menjawab kenapa aku tidak bisa melihat Jabang

“Ah, kamu. Kan kamu yang punya bayi. Masa gak lihat? Buta ya?!”

“Doraemon, janganlah kamu kasar. Saya kan hanya ingin tahu.”

“Oh, begitu. Kalau begitu anakmu ada di sebelahmu begitu kamu bangun.”

“Kok bisa?”

“Ya, bisa dong. Kamu kan edan.”

“Ah yang betul. Ngaco ah,”

“Nah, itu kamu edan.”

“Kamu yang edan! Masa semudah itu mencapai anak yang sulit diraih,”

“Kamu lebih edan lagi, mana mungkin benda bisa berbicara !?”

Nah begitu, kemudian aku terbangun dengan tidak segar. Capek adu mulut dengan robot biru muda yang lusuh. Ketika aku 
terbangun, aku melihat ada anakku di sebelah!

Oh, tuhan ! Jabang!

Aku meraih dan memeluknya. Ia merengut-rengut kecil, kepalanya agak kasar, namun hidungnya mancung. Kakinya sungguh sempurna bagaikan kayu. Ia mungkin adalah makhluk paling sempurna di dunia. Aku membuka baju dan langsung menyusuinya.

Ia mengendot sedikit, kemudian mendengkur. Aku memeluknya perlahan. Tubuhnya tidak lagi merah. Kutimang-timang Jabang Tanpa Nama itu. Sambil kudera kecil-kecil hidungnya. Jendela yang menampilkan horison mendung membuatku nyaman. Ingin lebih lama bersama Jabang.

Kemudian pintu terbuka.

“Rini, kamu sudah siuman?”

“Iya, Mas. Mas, kenapa dia baru ada disini? Aku dimana?”

“Kita ada di rumah, Rin. Kamu sudah boleh rawat di rumah.”

“Oh, Mas. Anak kita sempurna ya, Mas.”

“Rini. Kamu kecewa tidak, kalau mendengar kabar ini?”

Toni adalah orang yang sering memberitahukan duka tanpa babibu. Tapi karena ada Jabang. Aku siap untuk menanti.

“Kamu tidak bisa melahirkan lagi, Rini. Terjadi kecelakaan hebat di dalam kelaminmu sehingga …yah… aku hanyalah 
seorang yang hanya bisa menerima fakta. Bukan menyelidikinya.”

Aku membeku dan menatapnya. Aku mau menangis, tapi aku melihat Jabang.

“Tidak apa, mas. Kita akan tumbuhkan Jabang jadi orang yang sempurnaDengan itu ia lebih berharga dibanding seribu anak di dunia ini. Dia adalah anak semata wayang kita, Mas.”

“Rini, aku paham dengan kesedihanmu. Terima kasih untuk semua ketegaranmu ini,”

“Sama-sama, Mas.”

“Lain-kali ganti boneka saja, tapi aku takut kalau kamu jadi gila,”

“Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.

“Ah, sudahlah. Buah pikiran tanpa akar.”

***

Rini dan Toni berengkuhan menatap Jabang di dalam rengkuhan Rini. Rini bersenandung kecil sementara Toni harus tersenyum meringis melihat istrinya menggendong wayang kulit kecil miliknya.

Diluar dunia itu, didalam sebuah ruang berdimensi antah berantah. Benda-benda itu masih berlari dan berlari. Ribuan jam weker berlari entah kemana. Jam weker Doraemon istirahat sambil makan Dorayaki, ia mengelus bel kucingnya. Jam weker Captain America datang.

“Kenapa kamu? Istirahat bukannya berlari?”

“Dia belum menyadari ilusinya sendiri,”

“Oh begitu, ya sudah aku istirahatlah.”

Sekali lagi Doraemon mengelus bel kucingnya. Seraya nina bobo terhadap wayang kulit itu menggema di dunia itu.

Menyadarkan sunyi. Memalsukan asli.
Senin, 13 Juni 2011.
Tiba-tiba tercetus. Tiba-tiba meletus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar