Namanya Tino. Ia kini duduk di sebuah angkot 37 sambil merogoh-rogoh isi tasnya. Ia berusaha mencari sesuatu yang sepertinya berharga untuknya. Ternyata itu adalah buku UUD 1945 dengan amandemen terbaru tentunya. Tino lega sekali. Ia tidak seperti remaja lain yang menginginkan desain baju yang bagus atau pacar cantik, namun ia ingin menjadi pemuda bangsa yang benar.
Ia duduk di angkot. Tentu saja. Sepanjang perjalanan hanya satu yang ia baca, UUD 1945. Mungkin hal itu akan dianggap aneh oleh orang-orang dari SMA sebelah yang melihat Tino begitu serius membaca kata demi kata yang tertera di buku saku itu.
Kagum betul. Ia kagum betul dengan bagaimana hukum-hukum itu ada. Tapi ia tidak suka kala hukum-hukum itu dianggap tidak ada. Istilahnya menjadi pembela kebenaran begitu. Dasar hidup, ia tidak dilingkupi oleh lingkungan yang rawan. Ya, itu adalah anugerah yang dianggap azab oleh Tino.
***
Di sekolahnya yang mentereng, seperti biasa ia maju ke podium untuk cuap-cuap mengenai undang-undang.
“Bocah tua,” umpat Emet yang kepanasan. Ia sebal sekali dengan si Tino yang belagak tahu mengenai undang-undang. Entah apa yang membuat si Tino jadi suka undang-undang dasar, yang jelas itu telah menyeret Emet yang paling tidak suka berdiri terlalu lama jadi gundah gulana. Ingin ia mengusili Tino pasca pidato. Ide yang sangat licik dan kekanak-kanakan, tetapi menurut Emet itu adalah cara yang baik untuk menuntaskan ekspresinya.
Seusai pidato, Tino ke toilet, karena di toilet lama-lama tidak melanggar hukum, Tino berlama-lama disana. Entah apa yang ia lakukan disitu. Sementara itu Emet mengendap-endap ke kelas Tino yang masih sepi. Ia membuka tas Tino dan menemukan yang ia cari: Buku UUD 1945 dengan Amandemen Terbaru yang bentuknya sudah kucel karena terlalu sering dibaca. Tino mengeluarkan spidol dari kantung celananya dan mencoret-coret buku itu. Buku itu diletakkan lagi ke dalam tas dan ia berlalu. Sayang sekali Emet yang kekanak-kanakan tidak menyadari Madi, seorang pendiam di kelas Tino yang ahli dalam “tidak disadari keberadaannya”.
Sudah barang tentu, ketika Tino kembali ke kelas, Madi memberitahukan hal itu. Karena memberitahukan perilaku orang lain yang disuruh tidak dirahasiakan itu tidak melanggar hokum, maka Madi memberitahukan hal tersebur.
Sudah barang tentu pitam Tino melambung ke termosfer.
Api biru nyembur dari matanya.
***
Seusai sekolah Tino duluan, ia ingin mencegat si Emet. Emet sih sudah lupa dengan kejadian yang ia perbuat karena tadi siang, ia ditraktir satu kelas karena keberhasilannya menjahili guru bahasa, Ibu Bernadine, dengan menaruh ludah di tas kantornya. Rencana Emet hari ini minta uang kepada ibunya agar Emet bisa membeli majalah terbaru. Bukan majalah sembarangan tentunya. Dia kan, sejenis anak badung begitu. Ia ingin membeli sebuah majalah game yang akan ia gunakan untuk kejahilan selanjutnya di rental PS. Itulah anak SMA masa kini yang ia kira ia pikirkan.
Tiba-tiba pundaknya ditarik. Emet jadi kaget.
“Tino!” teriak Emet
Emet ditarik ke belakang sekolah. Biasanya tempat itu menjadi tempat paling oke untuk melakukan perbuatan terlarang seperti merokok atau pacaran. Tapi kali ini Tino dan Emet mungkin akan memberikan inspirasi baru untuk aktivitas di tempat itu, ya, berantem! Tapi karena menganiaya manusia itu melanggar hukum, maka Tino hanya menghempaskan Emet ke semak belukar.
“Apa-apaan ini?”
“Kamu tuh yang apa-apaan!”
“Tentu kamu!”
“Ya, kamu yang sudah mencoreng-coreng buku UUDku yang Cuma satu-satunya,”
“Hei! Jangan asal tuduh! Kau pikir aku ini bodoh apa, difitnah begitu, mau?”
“Kau itu yang buta! Masa’ tidak tahu kalau si Madi itu ada disana,”
Oh sudah, muka Emet langsung kering begitu.
“Kok tahu?”
“Ah, pengakuan.”
“Ups.”
“Ya. Kini kamu mau dihukum apa?”
“Memangnya ada hukuman untuk mencoret-coret buku?”
“Ya, ada!”
“Lantas bagaimana dengan anak yang menuliskan tulisan di belakang buku,”
“Sementara itu Cuma sekadar catatan, udik!”
“Jadi itu yang namanya mencoret buku dengan coretan yang tidak satu konten dengan buku itu melanggar hokum?”
“Tentu saja!”
“Coba berikan hukumnya?!”
“Ya, pake nalar dong.”
“Kalau begitu, silakan lihat ini. Ini punya kamu bukan?” Tanya Emet
Ia mengulurkan buku Matematika paket milik Tino.
“Mmm, iya.”
“Coba lihat halaman belakangnya,”
Ia melihat buku yang ada nama di stiker. “TINO”
DI belakangnya ada tulisan
“TINO ADALAH PEMUDA BANGSA YANG BENAR”
Dan itu adalah banyak sekali.
“Ah, kamu melanggar hukum,”
Tino terjatuh. Emet berjalan ke depan sekolah dan naik angkot
“Untung kuambil buku Matematikanya di tas.” Emet tidak menyesal telah mencoretnya.
Dan karena angkot yang melaju tidak melanggar hukum. Jadi angkot itu tidak dihentikan siapapun.
17 Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar